Refleksi 113 Tahun Muhammadiyah: Dari 10 Orang Jadi 50 Juta, Panti Rungkut Kelola Aset Rp.1,3 Miliar

0

SURABAYA || Expressnewtoday.net – “Dulu KH Ahmad Dahlan memulai perjuangan ini hanya dengan 10 orang santri. Kini, di usia 113 tahun, warga Muhammadiyah secara jumlah diperkirakan telah mencapai 50 juta orang,” ucap Ketua PWM Jawa Timur, Prof. Dr. dr. Sukadiono, M.M., saat meresmikan perluasan aset Panti Bayi (LKSA) Muhammadiyah Rungkut., pada tanggal 07 Desember 2025, di Jl. Medokan Asri No.25 Blok P, Medokan Ayu, Kec. Rungkut, Surabaya, Jawa Timur 60295.

Dalam tasyakuran tersebut, LKSA Rungkut mencatatkan sejarah baru dengan menuntaskan pembebasan lahan perluasan senilai Rp 1,3 Miliar. Angka ini menjadi bukti nyata kemandirian amal usaha Muhammadiyah di akar rumput dalam mengelola dana umat.

Rahasia Kepercayaan Publik: Aset Terpusat & Spirit berkemajuan ,Prof. Sukadiono dalam sambutannya memberikan analisis tajam dan mendalam mengenai fondasi kokoh yang membuat donatur berani menitipkan dana miliaran rupiah kepada institusi Muhammadiyah.
“Bapak-Ibu sekalian, mengapa Muhammadiyah kini disebut sebagai salah satu persyarikatan terkaya ke-4 di dunia? Jawabannya ada pada sistem kepemilikan yang unik. Seluruh aset, sarana, dan prasarana Muhammadiyah yang tersebar di seluruh Indonesia—termasuk tanah di Rungkut ini—adalah milik Pimpinan Pusat (Persyarikatan), bukan milik perseorangan. Tidak ada kiai atau pimpinan di Muhammadiyah yang bisa mewariskan aset umat ke anak cucunya. Inilah yang membuat trust (kepercayaan) masyarakat kepada kita begitu valid dan kuat,” tegas Sukadiono.
Lebih lanjut, ia menekankan filosofi identitas organisasi. “Ingat, Muhammadiyah itu matahari yang memberi sinar, tetapi tidak meminta. Kita bukan Wahabi, kita didirikan oleh Kyai Ahmad Dahlan dengan semangat memberi. Aset 1,3 Miliar ini adalah amanah untuk menyinari masa depan anak-anak yatim.”
Menutup sambutannya, Sukadiono menyentuh sisi spiritual dengan mengutip QS. Al-Munafiqun ayat 9-10. “Jangan sampai kita menjadi orang yang menyesal saat sakratul maut tiba. Mereka yang bakhil, medit, dan kikir akan memohon kepada Allah untuk ditunda kematiannya hanya demi bisa bersedekah. Maka, apa yang dilakukan donatur untuk Panti Rungkut ini adalah investasi akhirat agar kita tidak termasuk golongan yang menyesal tersebut,” pesannya dengan nada bergetar.

Manajemen Dana yang Akuntabel, Ketua Lazismu Surabaya, Faisal Haqqi, menyebut kesuksesan menghimpun dana Rp 1,3 Miliar ini sebagai buah dari sinergi dan transparansi. “Lazismu tidak bekerja sendiri. Kepercayaan donatur tumbuh karena mereka melihat dana 1,3 Miliar ini langsung terkonversi menjadi aset wakaf produktif yang jelas wujudnya. Ini model pengelolaan dana umat yang kami tawarkan: terukur, jelas peruntukannya, dan berdampak langsung pada kesejahteraan sosial,” papar Faisal.

Di sisi lain, Ketua MPKS PDM Kota Surabaya, Ferry Yudi Antonis Saputro, menekankan bahwa perluasan ini adalah investasi Sumber Daya Manusia (SDM). “Nilai investasi lahan 1,3 Miliar ini kami dedikasikan untuk peningkatan kualitas layanan. Kami menghimbau para donatur, jika ada kelebihan rezeki, teruslah bersinergi. Kami ingin mencetak generasi emas dari Rungkut, bukan sekadar membesarkan anak di panti,” ujarnya.

Jejaring Raksasa yang Diakui Dunia Panti Rungkut hanyalah satu titik dari ribuan aset Muhammadiyah yang dikelola dengan prinsip sentralistik tersebut. Data Majelis Diktilitbang dan MPKU PP Muhammadiyah (2024) mencatat kekuatan infrastruktur organisasi ini meliputi:
• 5.345 Sekolah/Madrasah di seluruh Indonesia.
• 172 Perguruan Tinggi (PTMA).
• 122 Rumah Sakit, yang kualitas pelayanannya telah diakui dunia lewat penghargaan World No Tobacco Day Award 2024 dari WHO.
Secara hukum, seluruh aset ini dilindungi oleh UU No. 28 Tahun 2004 tentang Yayasan dan UU Wakaf, yang memastikan tidak ada privatisasi aset umat, sejalan dengan penegasan Prof. Sukadiono.(Ysf)