Surabaya // expressnewstoday.net – Di bawah temaram lampu Balai RW 11 Kelurahan Kedungdoro, riuh tawa khas arek-arek Suroboyo perlahan mencairkan suasana. Malam itu, puluhan pasang mata remaja setingkat SMP dan SMA duduk berjejal, memenuhi setiap sudut ruang yang mendadak terasa sempit. Di luar perkiraan panitia, antusiasme anak-anak muda dari salah satu sudut terpadat di jantung Kota Surabaya ini begitu meluap. Mereka datang bukan untuk mendengar ceramah kaku, melainkan untuk mengurai sebuah benang kusut yang selama ini kerap disembunyikan di bawah karpet tabu: kesehatan reproduksi dan batasan pergaulan.
Bagi Choirun Nisaa, Wakil Sekretaris Karang Taruna Kecamatan Tegalsari, ruang pertemuan malam itu rasanya seperti sebuah mesin waktu. Langkah kakinya ke Balai RW 11 Kaliasih langsung memantik sejumput memori sentimental yang terkunci belasan tahun silam.
Kilas Balik Sebuah Kegelisahan
Nisa terlempar kembali ke tahun 2012. Kala itu, ia baru saja melepas seragam putih-biru usai menempuh Ujian Nasional. Di tengah remajanya bulan Mei atau Juni yang harusnya penuh riang, sebuah kejutan datang mengetuk pintu rumahnya dalam wujud selembar undangan pernikahan. Pengirimnya adalah seorang kawan karib masa kecilnya semasa SD yang menetap di kawasan Kaliasin.

Langkah kaki Nisa yang semula ringan berganti menjadi debar batin saat ia melongok ke dalam kamar rias pengantin. Di balik anggunnya gaun dekorasi, sang sahabat yang masih berusia belasan tahun itu bersanding dengan perut yang sudah membuncit, mengandung sekitar enam atau tujuh bulan.
“Stigma di lingkungan kita ini sering kali menjebak. Kalau anak-anak tanya soal hal berbau seksual, langsung dicap miring, dibilang mesum atau pikirannya kotor,” cetus Nisa, mengenang bagaimana tabunya topik ini di masyarakat.
Berangkat dari kegelisahan personal itulah, Nisa tidak ingin generasi di bawahnya terus berjalan dalam kegelapan informasi. Menurutnya, rasa penasaran remaja adalah kodrat perkembangan yang tidak bisa disumbat begitu saja. Ketika mereka menginjak usia SMP, rentetan pertanyaan di kepala mereka mulai berkembang lebih jauh dari sekadar mengenali perbedaan fisik laki-laki dan perempuan.
Jika lingkungan sekitar memilih bungkam atau menghakimi, anak-anak ini dikhawatirkan akan mencari jawabannya sendiri ke sudut-sudut kelam jagat maya.
“Kita tidak bisa benar-benar membentengi atau melarang mereka sepenuhnya, karena ego remaja justru sering kali menantang larangan,” tambah Nisa sembari melempar senyum tipis. “Tapi lewat ruang seperti ini, kita ingin mereka punya filter. Kalaupun mereka melangkah, mereka harus sadar penuh akan konsekuensinya, bertanggung jawab, dan tidak mengorbankan masa depan mereka hanya demi kesenangan sesaat.”
Ketika Semua Lini Saling Berpegangan
Ikhtiar menjaga masa depan anak kampung Kaliasih ini tentu tidak bisa tegak jika berjalan sendiri. Gagasan ini mula-mula digulirkan oleh I Ketut Shandy Swastika, Sekretaris Umum Karang Taruna Kecamatan Tegalsari, yang kemudian disambut kompak oleh pengurus harian termasuk Wijaya di Bidang Organisasi dan Pengkaderan.
Melalui jejaring yang luas, anak-anak muda Tegalsari ini berhasil merajut sinergi yang apik bersama komunitas Gusdurian Surabaya yang dinakhodai Ikke Nurjannah, serta menggandeng para akademisi muda dari Universitas Ciputra di bawah komando Jason Joshua Chandra, S.Hub.Int., M.IP.
Selama dua jam, dari pukul tujuh hingga sembilan malam, Balai RW 11 menjelma menjadi laboratorium diskusi yang hidup. Tidak ada sekat formal yang kaku; materi edukasi seksual dikemas lewat tanya jawab ringan dan berbagai simulasi interaktif yang membuat para remaja tak sungkan untuk angkat bicara.
Dukungan penuh juga mengalir dari garda depan birokrasi kampung. Bambang Sutrisno, Ketua RW 11 Kedungdoro, memandang kehadiran para mahasiswa dan aktivis muda ini sebagai oase di tengah masa transisi remaja warganya yang rentan goyah.
“Anak-anak kita ini jiwanya masih sangat labil. Edukasi dari teman-teman Universitas Ciputra ini penting sekali untuk membuka mata mereka tentang apa yang boleh dan apa yang berbahaya,” tutur Bambang di tengah riuhnya acara.
Bagi Bambang, investasi terbaik bagi kampungnya bukanlah sekadar pembangunan fisik, melainkan menjaga moralitas dan masa depan manusianya. Ia menaruh asa agar obrolan malam itu membekas panjang di benak warganya yang masih belia. “Harapan ending-nya sederhana saja, agar anak-anak ini bisa berpikir lebih dewasa, pandai menjaga kehormatan diri, dan tidak mengambil keputusan keliru yang kelak disesali di kemudian hari,” pungkasnya.
Riuh Balai RW 11 akhirnya surut seiring malam yang kian larut di kawasan Tegalsari. Namun, dari ruang sempit di tengah perkampungan padat itu, sebuah fondasi kesadaran telah diletakkan, sebuah bekal berharga agar anak-anak Kaliasih dapat tumbuh besar tanpa harus kehilangan arah masa depan mereka.(Wjy)

