Siasat Senyap Mahameru, Mengapa Mereka Kini Mengincar Payung Hukum dan Birokrasi Pemerintahan?

0

Surabaya || expressnewstoday.net – “Hukum pun kami juga memerlukan itu, supaya kita ada payung hukumnya,” tegas Fonny DM, Ketua Mahameru, saat berbicara mengenai arah perlindungan bagi para anggotanya.

Komunitas yang merangkul ratusan pekerja jalanan ini sedang gencar memperjuangkan posisi tawar anggotanya agar tidak sekadar menjadi objek industri digital. Fonny menginginkan adanya kolaborasi nyata yang melibatkan lintas sektor, mulai dari jajaran birokrasi pemerintahan hingga para pelaku usaha makro. Upaya strategis tersebut juga mendapat kawalan langsung dari Pembina Mahameru, Vivi Yuliawati, S.E., yang berkomitmen memperluas akses kemitraan formal bagi komunitas.

Urgensi payung hukum ini diperkuat oleh data Riset Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dan jejaring akademisi. Studi tersebut menyoroti lemahnya posisi tawar driver online akibat status “mitra” yang sering kali menafikan hak-hak ketenagakerjaan mendasar, seperti jaminan kesehatan mandiri dan kepastian regulasi tarif minimal. Tanpa adanya payung hukum yang mengikat dari pemerintah daerah, para pekerja jalanan ini rentan terjebak dalam pusaran konflik regulasi sepihak.

Penyamaan persepsi mengenai perlindungan hukum dan penguatan sektor UMKM ini menjadi menu utama dalam agenda kopi darat (kopdar) yang berlangsung di Warkop Stella, Jalan Karang Menjangan 2/77. Pertemuan yang dihelat pada Senin, 8 Juni 2026 mulai pukul 13.00 WIB tersebut dihadiri oleh puluhan driver dengan antusiasme tinggi.

Asap rokok mengepul di antara cangkir-cangkir kopi yang berpindah meja. Udara Surabaya yang gerah siang itu tidak menyurutkan konsentrasi para peserta yang menyimak pemaparan dari pengurus serta pembina organisasi.

Fonny menyebutkan, forum tersebut juga menjadi wadah skrining bagi calon anggota yang ingin merapat ke barisan Mahameru. Pengurus secara ketat membedah motivasi serta visi-misi para pendaftar baru agar roda organisasi tetap berjalan di jalur yang benar.
“Visi-misi kami dalam berorganisasi Mahameru ini tidak hanya di Surabaya, bahkan bisa di luar Surabaya, termasuk Jawa Timur,” kata Fonny.

Melalui basis massa yang terus membesar di Jawa Timur, Mahameru berharap bisa menjadi jembatan yang solid. Pengemudi online tidak boleh lagi berjuang sendirian di aspal, melainkan bergerak bersama di bawah payung hukum yang kuat dan sinergi ekonomi yang saling menghidupi.(Wjy)