Bertahan di Balik Badai: Kisah Perjuangan dan Ketangguhan Warga Sunting Melawan Alam

0

Tamiang Aceh || expressnewstoday.net – Bayangan tanah longsor yang amblas ke kebun sawit dengan suara “sreeek!” masih menghantui ingatan seorang ibu guru di SDN Sunting. Rabu, 21 Januari 2026, ia berdiri di depan Masjid Al-Ikhwan, tempat ia dan tujuh keluarga lainnya sempat mengungsi tanpa membawa apa pun selain berkas penting dan laptop. “Namanya panik, suami asal masukkan barang. Begitu dibuka di pengungsian, isinya kain ambal (karpet). Saya sampai menangis,” tuturnya mengenang perjuangan menjemput anaknya di pesantren dengan menyewa perahu seharga 100 ribu rupiah dan berjalan kaki 5 kilometer menembus lumpur lutut.

Kenyataan di lapangan mengonfirmasi skala bencana yang melumpuhkan ini; tercatat ratusan keluarga di Desa Sunting terdampak, termasuk puluhan lansia dan anak-anak balita yang terpaksa tidur di emperan tanpa tenda memadai selama puncak bencana. Hingga Rabu pagi pukul 10.00 WIB, situasi belum sepenuhnya pulih; aliran listrik masih padam di beberapa titik, dan warga mulai mengeluhkan serangan penyakit pasca-banjir akibat sanitasi yang buruk. Di desa tetangga, warga Dusun Alur Hitam dan Serba Dalam pun mengalami nasib serupa dengan rusaknya tempat ibadah dan fasilitas umum.

Meskipun akses jalan masih tertutup material lumpur dan bantuan dari pihak berwenang dinilai warga sempat melambat, masyarakat Sunting membuktikan ketangguhan mereka melalui solidaritas mandiri dan bantuan para relawan. Kehadiran relawan dari Sumatera hingga Jawa Timur yang datang memberikan bantuan secara bertubi-tubi menjadi napas tambahan bagi warga untuk kembali menata hidup. Perjuangan ini bukan sekadar memulihkan bangunan yang roboh, melainkan tentang merajut kembali sendi kehidupan yang sempat lumpuh akibat bencana terdahsyat setelah dua dekade terakhir.(Wjy)