SURABAYA // expressnewstoday.net – “Jangan sampai sampah itu seperti entut, sudah keluar lalu lupa. Jadi, sampah itu harus diberdayakan dan dikumpulkan untuk menjadi nilai ekonomis yang bermanfaat untuk kebutuhan sehari-hari.” Kalimat lugas nan tegas dari Eri, Ketua Bank Sampah Mutiara, menjadi pembuka yang berkesan dalam pelatihan pengolahan limbah minyak jelantah di kediamannya, Jalan Wonorejo 1, Kelurahan Wonorejo, Tegalsari, Surabaya, Minggu (26/4/2026).
Pernyataan Eri tersebut bukan sekadar slogan, melainkan tamparan realitas bagi kita semua. Data menunjukkan bahwa di Indonesia, setiap individu rata-rata menyumbang 115 hingga 184 kilogram pangan terbuang setiap tahunnya. Jika limbah makanan dan sisa minyak goreng terus dibiarkan tanpa penanganan di tingkat rumah tangga, beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) akan semakin membebani anggaran dan ekosistem wilayah Jawa Timur dan Surabaya, terutama menuju tahun-tahun mendatang yang memerlukan solusi teknologi masif.
Momen haru menyelimuti ruangan ketika Suprapto, Ketua RW 03, berdiri di hadapan warga untuk menyampaikan apresiasinya atas sinergi antara Bank Sampah Mutiara, Walhi Jawa Timur, dan Gusdurian. Dengan suara yang terbata-bata dan bergetar karena emosi yang meluap, ia menyeka air mata yang membasahi sudut matanya. “Saya sangat bangga melihat ibu-ibu di sini,” ucapnya pelan, menunjukkan betapa berartinya perubahan kecil yang kini mulai tumbuh di Wonorejo bagi masa depan wilayahnya.

Dalam pelatihan ini, Ike Nurjanah dan Irfan Budi Utomo dari Gusdurian Surabaya turun langsung membimbing para peserta, mulai dari pengurus bank sampah, warga lokal, hingga adik-adik karang taruna. Sinergi ini bertujuan untuk mengedukasi warga agar tidak lagi membuang minyak jelantah ke sungai, melainkan mengumpulkan dan mengolahnya melalui proses perendaman minimal 24 jam sebelum diolah menjadi lilin. Dukungan dari para tokoh ini menjadi kunci keberlanjutan program agar ibu-ibu dapat mempraktikkan keterampilan ini secara mandiri.
Pelatihan yang berlangsung hingga sore hari tersebut sukses menciptakan ruang diskusi dan kreativitas. Para peserta, yang mengaku senang bisa membuat lilin terapi untuk pengharum ruangan, kini memiliki harapan baru. Bukan sekadar mengurangi limbah, pelatihan ini diharapkan mampu menambah jumlah nasabah Bank Sampah Mutiara dan menciptakan produk cendera mata khas Wonorejo yang bernilai jual. Harapan besar dititipkan agar pola pikir masyarakat berubah: bahwa dari limbah jelantah, cahaya baru bagi lingkungan dan ekonomi warga dapat terus dinyalakan.(Wjy)

