Surabaya // expressnewstoday.net – Suasana khidmat mendadak berubah mencekam saat audio simulasi ledakan dan teriakan histeris diputar di dalam ruangan. Beberapa peserta tampak berjengit, sementara yang lain memejamkan mata erat-erat, seolah ditarik kembali ke memori kelam tahun 2018. Namun, trauma itu segera diredam oleh lantunan lagu “Hidup Ini Adalah Kesempatan” yang dibawakan dengan tenang oleh band pemuda gereja.
Ike Nurjanah, aktivis dari Komunitas Gusdurian Surabaya, berdiri di antara kerumunan dengan gestur yang tegas. Baginya, Gusdurian bukan sekadar penyelenggara, melainkan jembatan yang menghubungkan berbagai lini—mulai dari lintas iman, lintas gender, hingga lintas komunitas.
“Gusdurian itu wadah. Kami masuk ke mana saja untuk mempermudah kolaborasi ini. Karena nilai yang kita bawa dari Gus Dur adalah kemanusiaannya,” ungkap Ike. Ia menambahkan bahwa ancaman nyata saat ini bukan hanya terorisme dalam bentuk fisik, melainkan munculnya bibit-bibit eksklusivitas dan arogansi kelompok di ruang publik.
Melampaui Sekadar Seremoni. Di sudut lain, Emanuel Erlangga, Ketua Pemuda Katolik Kota Surabaya, sibuk memastikan koordinasi media berjalan lancar. Gurat wajahnya menunjukkan optimisme. Ia menegaskan bahwa kehadiran elemen seperti PCNU, Ansor, Banser, hingga mahasiswa UINSA membuktikan bahwa Surabaya memiliki sistem imun yang kuat terhadap radikalisme.
“Tujuan awal kita memang untuk terus memperingati 13 Mei, tapi bukan untuk terus terpuruk terhadap luka. Ini menjadi ruang temu masyarakat Surabaya untuk semakin inklusif,” jelas Emanuel. Kalimatnya pendek namun sarat penekanan, mencerminkan keinginan kolektif untuk beranjak dari masa lalu yang kelam.
Kekuatan Akar Rumput. Apa yang terjadi di GKI Diponegoro malam itu sejalan dengan temuan sosiologis bahwa ketahanan kota terhadap ekstremisme kekerasan (Violent Extremism) paling efektif dibangun melalui jalur kultural dan kolaborasi akar rumput. Berdasarkan pola gerakan masyarakat sipil di Jawa Timur, kegiatan lintas iman yang melibatkan anak muda secara aktif terbukti mampu menurunkan tensi segregasi sosial yang sering kali dipicu oleh hoaks atau sentimen agama di media sosial.

Puncak acara ditandai dengan pembacaan artikel “Bayu, Martir Persaudaraan” yang menguras emosi. Nama Aloysius Bayu kembali disebut sebagai pengingat bahwa di atas segala perbedaan doktrin, ada nyawa yang rela dikorbankan demi melindungi sesama manusia.
Malam itu ditutup dengan doa lintas iman yang dipimpin oleh Dian Jeanny. Saat semua perwakilan komunitas naik ke panggung untuk berfoto bersama, tawa pecah dan jabatan tangan erat menjadi pemandangan terakhir sebelum lampu gereja benar-benar dipadamkan. Surabaya telah memilih: mereka tidak ingin terbakar oleh api kebencian, melainkan hangat dalam pelukan inklusivitas.(Wjy)

