SURABAYA // expressnewstoday.net – Pelaksanaan Salat Iduladha yang digelar oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tegalsari di Lapangan Dr. Sutomo (Taman Korea) pada Rabu (27/5/2026) mencatat sebuah anomali sosial yang menggembirakan. Faktor cuaca ekstrem berupa hujan lebat semalam suntuk yang diprediksi secara rasional akan menyurutkan kehadiran masyarakat, justru berbanding terbalik dengan realitas di lapangan. Sebanyak 500 jemaah dilaporkan tetap berbondong-bondong memadati area terbuka tersebut demi menunaikan ibadah secara berjemaah.
Ketua PCM Tegalsari, Sofyan Affandy Yusuf, S.Kom., mengungkapkan bahwa kepanitiaan sempat dilingkupi rasa cemas yang mendalam pada malam hari sebelum acara. Mengingat air hujan menggenangi lapangan dan merusak penanda saf, kalkulasi logis panitia saat itu memperkirakan kehadiran jemaah akan merosot tajam, bahkan diprediksi hanya akan dihadiri oleh sekitar 100 orang jemaah inti saja. Namun, begitu jam digital menunjukkan pukul 06.00 WIB, arus kedatangan warga luar biasa padat, memaksa panitia bergerak taktis memperluas area saf guna menampung antusiasme yang di luar perkiraan tersebut.

Landasan Riset Penguat. Secara sosiologis, fenomena melonjaknya kehadiran jemaah di tengah kendala cuaca buruk ini memvalidasi teori Spiritual Capital (Modal Spiritual) yang kerap diangkat dalam studi sosiologi keagamaan komparatif. Riset menunjukkan bahwa pada komunitas berbasis keagamaan yang memiliki kohesi sosial tinggi, tantangan eksternal—seperti cuaca ekstrem, keterbatasan fasilitas, atau krisis lokal—justru sering kali memicu respons solidaritas kolektif (collective tindakan) yang jauh lebih kuat. Jemaah merasa memiliki tanggung jawab moral komunal untuk hadir secara fisik demi menjaga eksistensi dan kesuksesan identitas komunal mereka di ruang publik.
Esensi dari pengorbanan fisik jemaah yang menembus sisa-sisa basah lapangan ini juga berkelindan erat dengan pesan khotbah yang disampaikan oleh Ustadz H. Muhammad Syaikhul Islam, SHI, MHI, CHt, CCH(NGH-USA), CI. Dalam ceramahnya, ia mengaitkan pengorbanan jemaah hari ini dengan rekam jejak sejarah kesabaran Nabi Ibrahim AS dan Siti Hajar saat harus bermigrasi ke lembah Makkah yang kala itu masih berupa padang pasir tandus tanpa tanda-tanda kehidupan.
Bagi PCM Tegalsari, lonjakan kuantitas jemaah yang melampaui ekspektasi ini tidak sekadar angka statistik di atas kertas, melainkan manifestasi modal sosial yang sangat kuat. Solidaritas jemaah yang teruji oleh cuaca ini diharapkan dapat dikonversi menjadi energi kolektif yang nyata guna merealisasikan berbagai program penguatan keimanan, keikhlasan, dan aksi kepedulian sosial yang nyata di wilayah Tegalsari sepanjang tahun berjalan.(Wjy)

