GRESIK // expressnewstoday.net . – Tantangan terbesar dalam menjaga stabilitas ekonomi masyarakat di era digital ternyata bukan sekadar fluktuasi mata uang, melainkan derasnya arus disinformasi. Isu miring mengenai ketahanan perbankan hingga rumor keliru tentang pemotongan saldo sepihak sering kali memicu kepanikan massal yang tidak perlu di tingkat akar rumput.
“Masyarakat kita ini modal utamanya adalah kepercayaan. Begitu ada desas-desus atau hoaks sedikit saja di media sosial, mereka langsung cemas. Padahal kalau mau tenang dan mencerna informasi dari otoritas resminya, payung perlindungan negara itu sudah sangat kokoh,” tutur Anang Saifudin Junaidi, S.E., S.H., MSA, CPA, CPI, BKP.
Pria yang juga dikenal aktif sebagai Ketua Lembaga Pengawasan Pembinaan Keuangan (LPPK) Surabaya ini menegaskan bahwa edukasi tatap muka secara masif menjadi obat penawar paling mujarab untuk meredam kecemasan publik. Melalui pendekatan yang humanis dan interaktif, masyarakat diajak untuk melihat rekam jejak nyata lembaga penjaminan yang ada di Indonesia.

Suasana edukasi semacam ini terbukti selalu efektif ketika dikemas secara santai namun tetap berbobot. Berlatar ruang diskusi yang hangat, para tokoh yang hadir kerap mencairkan suasana dengan pantun lokal sebelum masuk ke materi yang cukup berat. Langkah ini diambil agar sekat-sekat formalitas runtuh, sehingga warga tidak sungkan untuk menanyakan hal-hal yang selama ini mengganjal di pikiran mereka.
“Tuku ketan nang pinggir kali, ayo teman-teman… mari berdiskusi dengan sepenuh hati,” seloroh Anang dalam sebuah kesempatan diskusi literasi, yang langsung disambut senyum lepas para peserta yang hadir.
Kultur gerakan yang tertib dan edukatif seperti ini sangat membantu mengarahkan alur pikir masyarakat agar tidak mudah terombang-ambing oleh berita bohong. Dengan memahami aturan main yang jelas—seperti konsep penjaminan simpanan yang murni bersumber dari kontribusi perbankan dan modal awal pemerintah, bukan dari kantong nasabah—masyarakat bisa lebih tenang dan rasional dalam mengelola aset mereka di lembaga keuangan resmi.(Wjy)

