Rahasia Sayap Garuda Yang Melahirkan Indonesia

0

Malang // expressnewstoday.net. – Coba dekatkan kursimu, ada bagian yang paling menggetarkan dari cerita Pak Imam sore itu. Sambil terus mengusap pinggiran kaki candi, beliau membawa kami menyelami relief Garudeya dari fragmen Adiparwa. Ritme ceritanya mendadak melesat cepat, penuh letupan heroisme, persis seperti kepakan sayap burung mitologi tersebut yang sedang bertarung melawan takdir.

Beliau bercerita dengan menggebu-gebu, bergerak memutari kaki candi berlawanan arah jarum jam, sebuah metode kuno bernama prasawya. Gerakannya gesit. Di sisi kanan selatan, jemarinya menyentuh pahatan Garuda yang sedang membungkuk, otot-otot sayapnya menegang dahsyat karena harus menggendong tiga ekor naga besar di atas pundaknya! Itu lambang kepatuhan dan pengorbanan tanpa batas seorang anak demi membebaskan ibunya, Dewi Winata, dari perbudakan kejam Dewi Kadru.

Lalu melangkah cepat lagi kita ke sisi belakang bagian timur. Pak Imam menunjuk pahatan kedua dengan mata berbinar-binar. Di situ Garuda digambarkan terbang menerjang badai, menerobos kepungan para dewa di kahyangan, kedua tangannya mencengkeram erat sebuah kendi suci berisi Tirta Amerta, air keabadian! Fokus, berani, bertaruh nyawa demi sebuah penebusan kemerdekaan!

Dan… pluk… ritme ceritanya mendadak melambat drastis saat kami tiba di sisi kiri utara. Gerakan Pak Imam terhenti total. Senyap sejenak.
Di relief ketiga itu, Garuda berdiri dengan posisi agung, menjunjung tinggi seorang wanita di atas kepalanya. Sang ibu telah bebas. Kemerdekaan murni tercapai. Harkat dan martabat Ibu Pertiwi tegak berdiri, lepas dari segala belenggu perbudakan.

“Kamu tahu, Kawan?” Pak Imam berbisik tegap, memecah kesunyian lembah Tumpang. “Filosofi kebebasan mutlak dari relief inilah yang diserap langsung oleh Bung Karno. Bung Hatta, Muhammad Yamin, sampai Sultan Hamid II duduk melingkar di lingkaran utama mereka, memeras otak merumuskan lambang negara kita hingga lahir Garuda Pancasila yang perkasa itu. Para veteran sejarah jadi saksi betapa Sang Proklamator terkesima dengan batu-batu di Candi Kidal ini.”

Namun, di sela-sela kebanggaan itu, Pak Imam kembali menghela napas panjang. Angin malam mulai turun membawa dingin lereng Tengger. Harapan terbesarnya malam itu jatuh pada pundak-pundak rapuh generasi muda kita. Beliau ingin meluruskan salah kaprah masyarakat modern yang kerap melabeli leluhur dengan cap mistis ‘sakti mantra guna’.

“Mereka bisa membangun mahakarya megah seperti Kidal, Penataran, bahkan Borobudur bukan karena pamer kesaktian sulap,” katanya dengan nada prihatin yang mendalam. “Itu semua lahir dari laku spiritual yang jujur, tirakat yang menguras raga, kesucian batin, dan kedekatan tanpa jarak dengan Gusti Yang Maha Kuasa. Kemampuan kun fayakun itu murni dari kesucian, bukan mistis hitam.”

Matahari akhirnya tenggelam sepenuhnya di balik cakrawala Tumpang. Pak Imam merapikan topi rimbanya, menatap kami satu per satu dengan tatapan seorang kawan lama yang menitipkan pesan berharga sebelum berpisah di ujung malam.

“Jangan selalu silau dengan budaya luar,” pungkasnya lirih, hampir tenggelam dalam deru angin malam. “Banggalah dengan sejarahmu sendiri. Biar kita tidak jadi orang asing yang kebingungan mencari jati dirinya di tanah airnya sendiri.” (Wjy)